JumatAgung Kerjasama dalam menata ruang secara liturgis, melatih lektor/lektris untuk kisah sengsara menurut Yohanes 18 -19 Presentasi Kelompok, video 15 26 April 2022 11.30 15.10 Perjamuan Kudus dan tari liturgi 16 10 Mei 2022 Ujian Akhir Semester Jakarta, 10 Mei 2022
Padahari Kamis itulah Yesus menetapkan perjamuan kudus pada murid - muridNya. Hari kedua disebut Jumat Agung. Jumat Agung pada awalnya dalam kebiasaan gereja memuat kebaktian 5 kali, mengikuti jam-jam doa harian. Pelaksanaan ibadah ini mengikuti waktu-waktu yang dilalui Yesus pada hari Jumat itu.
SULUTIMES Minahasa - Wakil Bupati (Wabup) Minahasa Robby Dondokambey bersama Wakil Ketua TP-PKK Minahasa Martina Dondokambey-Lengkong mengikuti ibadah Jumat Agung dan Perjamuan Kudus di Jemaat GMIM Petra Sawangan, Jumat (15/4/2022). Diawali dengan ibadah Jumat Agung pukul 09.00 WITA, Wabup Minahasa Pnt Robby Dondokambey selaku Ketua P/KB Jemaat GMIM Petra Sawangan dan Pnt Tineke Dondokambey
Vay Tiền Nhanh Chỉ Cần Cmnd. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Hari ini saya bersama segenap umat Kristiani di tanah air melaksnakan ibadah perayaan Jumat Agung yang ditandai dengan sakramen perjamuan kudus yang tidak dilakukan di dalam gedung gereja yang lasim dilakukan. Namun dilakukan di rumah rumah anggota jemat sebagaimana himbauan dalam menghadapi pendemi virus corona. Ini adalah pengalaman seumur hidup bagi saya dan kita semua, dimana untuk pertama kalinya menjalani ibadah secara live streaming atau online hanya di rumah pandemik corona yang berimbas global disemua aspek kehidupan umat menusia termasuk pada aspek peribadatan, membuat kita harus mengambil pilihan untuk tetap beribadah di rumah sebagai perlindungan dari dampak penyebaran virus tersebut. Mengikuti jalannya ibadah perjamuan kudus yang dituntun Pendeta dari balik layar laptop secara online, sembari merefleksikan simbol roti yang kita makan dan anggur yang kita minum, sebagai pengorban tubuh dan darah Kristus yang mati di kayu salib. "Silahkan saudara yang di rumah ambilah makanlah roti dan minumlah anggur yang sudah ada di rumah sebagai peringatan akan tubuh dan darah Kristtus," kata Pendeta di GKST Imanuel Palu selaku khadim. Roti dan aggur adalah tanda sebagai sarana menguatkan iman dan percaya pada Yesus yang telah berkorban untuk kita manusia. Namun sebagai orang percaya, kita tidak hanya mengingat kematian Kristus semata, namun juga mengaktualisaasikan makna akan karya dan pengrobanan Kristus dalam kehidupan sehari hari. Momentum Jumat Agung sebagai simbol kematian Yesus Kristus di atas kayu salib, selayaknya menjadi menjadi momentum refleksi atas kebaikan Tuhan dalam penebusan dosa manusia. Sekaligus sebagai ungkapan syukur atas kebaikan dan cinta kasih Allah yang diaktualisasikan dalam sebuah ibadah bersama umat lainnya di gereja. Sekaligus duduk bersama dalam meja perjamuan kudus untuk menghayati roti yang kita makan dan anggur yang kita minum semberi memaknai perintah Yesus yakni "perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku."Namun virus corona harus membuyarkan semua keinginan untuk bisa beribadah bersama dan berinteraksi sosial dengan umat yang lain. Keinginan untuk mengikuti perjamuan kudus secara bersama sama dengan umat dan menghayati sepenuh hari makna terdalam dari perjamuan tersebut harus ditunda. Juga keinginan untuk berjabat tangan dengan Khadim dan para Majelis yang sudah melayani saat ibadah usai. Roti dan Anggur yang dibagikan ke Jemaat untuk perjamuan kudus di rumah. Doc Pri Dampak pandemik corona membuat kita menahan semua kenginan keinginan dan niat baik tersebut. Sebaliknya kita ditantang untuk semakin memaknai kematian Yesus pada Jumat Agung sebagai bentuk pengorbanaNya kepada kita umat manusia. Dan tentu saja bagaimana memaknai kematian tersebut dalam konteks kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, dalam fase penyebaran pandemik global saat ini yang kita jalani dengan berada di rumah. Perayaan Jumat Agung tahun ini menjadi relevan dengan kondisi saat ini dalam menjalani fase tidak menentu kapan pandemik corona akan berakhir. Yang kita tahu dalam fase saat ini, kita banyak terbuang waktu dan kesempatan untuk melakukan interaksi sosial dengan sesama, karena larangan untuk membatasi adanya pertemuan pertemuan tersebut. Sebuah interaksi sosial selayaknya yang mendatangkan rasa kebersamaan, persaudaraan persahbatan dan cinta kasih saat bertemu Yesus mengalami kematian di Bukit Golgata, kesedihan yang mendalam orang orang terdekat. Kehilangan orang yang dicintai memang akan selalu menghadirkan kesedihan. Begitu pun dalam pendemik corona, kita banyak menyaksikan keluarga yang sangat bersedih atas kehilangan anggota keluarga akibat terjangkit virus tersebut. Juga kesedihan bagi mereka yang tidak bisa bekerja bahkan ada yang sampai kehilangan pekerjaan, sementara harus memberi makan anggota rasa sedih bagi mereka yang mendapat stigma negatif, hanya karena postif terpapar penularan virus. Semua rasa duka dan tangisan dari balik tembok rumah orang orang membutuhkan penguatan tersebut, adalah 'penyaliban' penderitaan yang membutuhkan bantuan kita guna 'penebusan' pegumulan yang mereka pengorbanan Yesus di kayu salib adalah merefleksikan cinta kasihNya kepada umat manusia. Itulah sebabnya rasa cinta terhadap sesama tidak harus tergerus hanya karena adanya pandemik corona. Gedung gereja yang saat ini boleh saja tertutup sebagai implementasi menghentikan sementara aktivitas beribadah. Namun gereja tidak harus tertutup rapat dalam aktualisasi kemanusiaannya. 1 2 Lihat Humaniora Selengkapnya
403 ERROR Request blocked. We can't connect to the server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error. Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation. Generated by cloudfront CloudFront Request ID UQwVgMlYaekL1IdeXyxwc6hFydBeinklmGtD7R1y5SROJJggpIQMsg==
KUDUS – Jemaat Kristiani merayakan Jumat Agung di Gereja Injil di Tanah Jawa GITJ Kudus. Jumat Agung dilaksanakan secara live streaming dan tatap muka yang masih dibatasi. Namun, tanpa digelar Perjamuan Kudus dan Kasih. Majelis Komisi Pemuda GITJ Kudus Juni Hermawan mengatakan, sebelum pandemi pihaknya pasti menyediakan Perjamuan Kudus dan Perjamuan Kasih. Perjamuan Kudus di antaranya menyediakan makanan berupa roti dan minuman anggur. Sedangkan Perjamuan Kasih berupa suguhan makanan berat. ”Namun setelah datangnya pandemi, sampai saat ini kami tidak meyediakan perjamuan itu,” katanya. Perjamuan itu, kata dia, dibagikan usai pemberitaan firman. Sedangkan ibadah Jumat Agung dipimpin Pendeta GITJ Herin Kahadi Jayanto. Menurutnya, tingkat kehadiran jemaat kali ini lebih meningkat daripada tahun sebelumnya. Sebab, tahun lalu kebanyakan jemaat beribadah di rumah masing-masing. Dalam perayaan Jumat Agung, GITJ Kudus masih menerapkan pembatasan. Kapasitas di gedung utama hanya boleh terisi 80 jemaat. Berdasarkan pantauan, tempat duduk juga masih diberi garis silang berwarna kuning. Kursi panjang yang berada dalam gedung utama hanya diisi dua jemaat. ”Jika di dalam sudah tidak muat, kami alihkan ke luar,” terangnya. Di luar gedung sendiri tampak tenda berwarna merah putih terpasang. Kursi yang sudah disediakan pun tidak sampai ke halaman gereja. Setidaknya hanya ada 175 jemaat yang hadir pada Jumat Agung kemarin. ”Jelang Paskah merupakan perayaan besar bagi kami. Namun, saat pandemi melanda, kami tak bisa merayakan momen-momen besar seperti Perjamuan Kasih. Terutama perayaan Paskah anak-anak,” ungkapnya. Dia menambahkan, Paskah anak-anak ialah semacam bentuk permainan dan lomba yang diadakan di gereja dengan peserta anak-anak. Kadang acara tersebut dilaksanakan setelah acara kebaktian. ”Pelaksaan bisa setelah acara Jumat Agung maupun setelah acara Minggu Paskah. Pihaknya masih belum berani merayakan paskah anak itu, lantaran masih pandemi,” imbuhnya. ark/lin KUDUS – Jemaat Kristiani merayakan Jumat Agung di Gereja Injil di Tanah Jawa GITJ Kudus. Jumat Agung dilaksanakan secara live streaming dan tatap muka yang masih dibatasi. Namun, tanpa digelar Perjamuan Kudus dan Kasih. Majelis Komisi Pemuda GITJ Kudus Juni Hermawan mengatakan, sebelum pandemi pihaknya pasti menyediakan Perjamuan Kudus dan Perjamuan Kasih. Perjamuan Kudus di antaranya menyediakan makanan berupa roti dan minuman anggur. Sedangkan Perjamuan Kasih berupa suguhan makanan berat. ”Namun setelah datangnya pandemi, sampai saat ini kami tidak meyediakan perjamuan itu,” katanya. Perjamuan itu, kata dia, dibagikan usai pemberitaan firman. Sedangkan ibadah Jumat Agung dipimpin Pendeta GITJ Herin Kahadi Jayanto. Menurutnya, tingkat kehadiran jemaat kali ini lebih meningkat daripada tahun sebelumnya. Sebab, tahun lalu kebanyakan jemaat beribadah di rumah masing-masing. Dalam perayaan Jumat Agung, GITJ Kudus masih menerapkan pembatasan. Kapasitas di gedung utama hanya boleh terisi 80 jemaat. Berdasarkan pantauan, tempat duduk juga masih diberi garis silang berwarna kuning. Kursi panjang yang berada dalam gedung utama hanya diisi dua jemaat. ”Jika di dalam sudah tidak muat, kami alihkan ke luar,” terangnya. Di luar gedung sendiri tampak tenda berwarna merah putih terpasang. Kursi yang sudah disediakan pun tidak sampai ke halaman gereja. Setidaknya hanya ada 175 jemaat yang hadir pada Jumat Agung kemarin. ”Jelang Paskah merupakan perayaan besar bagi kami. Namun, saat pandemi melanda, kami tak bisa merayakan momen-momen besar seperti Perjamuan Kasih. Terutama perayaan Paskah anak-anak,” ungkapnya. Dia menambahkan, Paskah anak-anak ialah semacam bentuk permainan dan lomba yang diadakan di gereja dengan peserta anak-anak. Kadang acara tersebut dilaksanakan setelah acara kebaktian. ”Pelaksaan bisa setelah acara Jumat Agung maupun setelah acara Minggu Paskah. Pihaknya masih belum berani merayakan paskah anak itu, lantaran masih pandemi,” imbuhnya. ark/lin
perjamuan kudus jumat agung